Menjelang dimulainya F1 2026 di Melbourne, masalah mesin tetap menjadi topik sensitif. Unit tenaga Mercedes memicu perhatian setelah data menunjukkan rasio kompresi power unit bisa melebihi batas 16:1 saat dalam kondisi panas. Hal ini menimbulkan risiko protes dari tim lain jika tidak ada klarifikasi.

Nikolas Tombazis, kepala teknis FIA, menegaskan perlunya penyelesaian sebelum balapan pertama. “Kami tidak ingin kejuaraan dimulai dan orang-orang menafsirkan peraturan berbeda. Tujuan utama adalah memastikan masalah ini tuntas sehingga tidak ada lagi perdebatan,” ujarnya.
FIA tengah membahas berbagai solusi untuk memastikan semua pihak puas. Langkah ini diambil agar musim baru tidak dimulai dengan kontroversi, sekaligus memberi kepastian hukum terkait interpretasi peraturan power unit yang kompleks.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Data Shakedown Memberi Petunjuk
Shakedown F1 di Barcelona menunjukkan keunggulan jarak tempuh unit tenaga Mercedes. Tim pabrikan dan pelanggan Mercedes menyelesaikan 1.134 putaran, Ferrari 991, dan Red Bull Powertrain Ford 624 putaran, menunjukkan ketahanan mesin masing-masing tim.
Meski tujuannya bukan mencari performa maksimal, data shakedown mengindikasikan perbedaan potensi teori rasio kompresi. Mercedes unggul sekitar dua persepuluh detik dibandingkan pesaing, menimbulkan pertanyaan tentang keuntungan yang diperoleh unit 6 silinder endotermik mereka.
Sementara Honda, Ferrari, Audi, dan RBPT meminta jaminan legalitas. FIA menyetujui solusi Mercedes berdasarkan pengujian suhu kamar, namun interpretasi zona abu-abu dalam regulasi tetap perlu diklarifikasi untuk mencegah protes di lintasan.
Baca Juga: Inter Milan Tertarik Pinjam Curtis Jones dari Liverpool
Pilihan Solusi dan Kompromi

FIA dan tim sedang mempertimbangkan beberapa opsi untuk menyamakan performa mesin. Salah satunya adalah memasang sensor tambahan di ruang bakar, namun hal ini memerlukan kesepakatan semua tim dan sulit dicapai.
Opsi lain adalah intervensi pada kapasitas energi bahan bakar, mirip flow meter kedua yang pernah diterapkan Ferrari pada 2019. Alternatif terakhir adalah meminta sertifikasi mandiri dari Brixworth yang menyatakan unit daya Mercedes mematuhi regulasi dalam semua kondisi.
Diskusi ini menunjukkan kompleksitas teknis dan politik di F1. Masing-masing tim ingin melindungi keuntungan teknis mereka, sementara FIA harus memastikan kompetisi tetap adil dan transparan sebelum seri pembuka.
Risiko dan Harapan untuk Musim 2026
Posisi yang sulit didamaikan membuat keputusan akhir FIA krusial. Jika kompromi tidak ditemukan, paddock berisiko pecah bahkan sebelum balapan pertama dimulai. Meski demikian, semua pihak berharap solusi disepakati sehingga fokus kembali ke balapan dan persaingan di lintasan. Shakedown Barcelona memberi gambaran awal kesiapan mesin, namun peraturan tetap menjadi faktor penentu keadilan kompetisi.
Musim 2026 diprediksi penuh persaingan ketat. Dengan penyesuaian regulasi dan kepastian teknis, FIA berharap pembalap dan tim dapat bersaing secara adil tanpa gangguan protes yang bisa memengaruhi jalannya kejuaraan. Buat kalian yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai seputaran Sport Global, anda bisa kunjungi sportszillablog.com, kalian akan mendapatkan informasi yang tentunya terbaru dan ter-update setiap hari
